Usia sudah melewati tiga puluh, tetapi belum juga ada tempat untuk
menambatkan rindu. Seorang pria usia
sekitar 40 tahun, memiliki karier yang cukup sukses, merasakan betapa
sepinya hidup tanpa istri. Ingin menikah, tapi takut ! tak bisa
mempergauli istrinya dengan baik. Sementara terus melajang merupakan
siksaan yang nyaris tak dapat ditahan. Dulu ia ingin menikah, ketika
keriernya belum seberapa. Tetapi niatitu dipendam dalam-dalam karena
merasa belum mapan. Ia harus mengumpulkan dulu uang yang cukup banyak agar
bisa menyenangkan istri. Ia lupa bahwa kebahagiaan itu letaknya pada
jiwa yang lapang, hati yang tulus, niat yang bersih dan penerimaan
yang hangat. Ia juga lupa bahwa jika ingin mendapatkan istri yang
bersahaja dan menerima apa adanya, jalannya adalah dengan menata hati,
memantapkan tujuan dan meluruskan niat. Bila engkau ingin mendapatkan
suami yang bisa menjaga pandangan, tak bisa engkau meraihnya dengan,
`Hai, cowok... Godain kita, dong.'Saya teringat dengan sabda Nabi Saw.
(tapi ini bukan tentang nikah). Beliau berkata, `Ruh itu seperti
pasukan tentara yang berbaris.' Bila bertemu dengan yang serupa
dengannya, ia akan mudah mengenali, mudah juga bergabung dan bersatu.
Ia tak bisa mendapatkan pendamping yang mencintaimu dengan sederhana,
sementara engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai pemikatnya?
Bagaimana mungkin engkau jadikan gemerlap kemapananmu sebagai
pemikatnya? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan suami yang menerimamu
sepenuh hati dan tidak ada cinta di hatinya kecuali kepadamu;
sementara engkau berusaha meraihnya dengan menawarkan kencan sebelum
terikat oleh pernikahan? Bagaimana mungkin engkau mendapatkan lelaki
yang terjaga bila engkau mendekatinya dengan menggoda?
Di luar soal cara, kesulitan yang kita hadapi saat ingin meraih
pernikahan yang diridhai tak jarang kerana kita sendiri
mempersulitnya. Suatu saat seorang perempuan memerlukan perhatian dan
kasih-sayang seorang suami, ia tidak mendapatkannya. Di saat ia
merindukan hadirnya seorang anak yang ia kandung sendiri dengan
rahimnya, tak ada suami yang menghampirinya. Padahal kecantikan telah
ia miliki. Apalagi dengan penampilannya yang enak dipandang. Begitupun
uang, tak ada lagi kekhawatiran pada
dirinya. Jabatannya yang cukup mapan di perusahaan memungkinkan ia
untuk membeli apa saja, kecuali kasih-sayang suami.
Kesempatan bukan tak pernah datang. Dulu, sudah beberapa kali ada yang
mau serius dengannya, tetapi demi karir yang diimpikan, ia menolak
semua ajakan serius. Kalau kemudian ada hubungan perasaan dengan
seseorang, itu sebatas pacaran. Tak lebih. Sampai karier yang
diimpikan tercapai; sampai ia tiba-tiba tersadar bahwa usianya sudah
tidak terlalu muda lagi; sampai ia merasakan sepinya hidup tanpa suami,
sementara orang-orang yang dulu bermaksud serius dengannya, sudah
sibuk mengurusi anak-anak mereka. Sekarang, ketika kesadaran itu ada,
mencari orang yang mau serius dengannya sangat sulit. Sama sulitnya
menaklukkan hatinya ketika ia muda dulu.
Masih banyak cerita-cerita sedih semacam itu. Mereka menunda
pernikahan di saat Allah memberi kemudahan. Mereka enggan
melaksanakannya ketika Allah masih memberinya kesempatan karena alasan
belum bisa menyelenggarakan walimah yang `wah'. Mereka tetap mengelak,
meski terus ada yang mendesak; baik lewat sindiran maupun dorongan
yang terang-terangan. Meski ada kerinduan yang tak dapat diingkari,
tetapi mereka
menundanya karena masih ingin mengumpulkan biaya atau mengejar karier.
Ada yang menampik `alasan karier' walau sebenarnya tak jauh berbeda.
Seorang akhwat menunda nikah mesti ada yang mengkhitbah karena ingin
meraih kesempatan kuliah S-2 ('Tahun depan kan belum tentu ada
beasiswa'). Ia mendahulukan pra-sangka bahwa kesempatan kuliah S-2 tak
akan datang dua kali, lalu mengorbankan pernikahan yang Rasullah Saw.
Telah memperingatkan:
"Apabila datang kepadamu seorang laki-laki (untuk meminang) yang
engkau ridha terhadap agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Bila
tidak engkau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan akan
timbul kerusakan yang merata di muka bumi."
(HR. At-Tirmidzi dan Ahmad).
Saya tidak tahu apakah ini merupakan hukum sejarah yang digariskan
oleh Allah. Ketika orang mempersulit apa yang dimudahkan oleh Allah,
mereka akhirnya benar-benar mendapati keadaan yang sulit dan nyaris
tak menemukan jalan keluarnya. Mereka menunda-nunda pernikahan tanpa
ada alasan syar'i, dan akhirnya mereka benar-benar takut melangkah di
saat hati sudah sangat menginginkannya. Atau ada yang sudah
benar-benar gelisah, tetapi tak kunjung ada yang mau serius dengannya.
Kadangkala, lingkaran ketakutan itu terus belanjut. Bila di usia-usia
dua puluh tahunan mereka menunda nikah karena takut dengan ekonominya
yang belum mapan,
di usia menjelang tiga puluh hingga sekitar tiga puluh lima berubah
lagi masalahnya. Laki-laki sering mengalami sindrom kemapanan (meski
wanita juga banyak yang demikian, terutama mendekati usia 30 tahun).
Mereka menginginkan pendamping dengan kriteria yang sulit dipenuhi.
Seperti hukum kategori, semakin banyak kriteria semakin sedikit yang
masuk kategori. Begitu pula dengan kriteria tentang jodoh, ketika kita
menetapkan kriteria yang terlalu banyak, akhirnya bahkan tidak ada
yang sesuai dengan keinginan kita. Sementara wanita yang sudah berusia
sekitar 35 tahun, masalah mereka bukan soal kriteria, tetapi soal
apakah ada orang yang mau menikah dengannya. Ketika usia 40-an,
ketakutan yang dialami oleh laki-laki sudah berbeda lagi, kecuali bagi
mereka yang tetap terjaga hatinya. Jika sebelumnya, banyak kriteria
yang dipasang, pada usia 40-an muncul ketakutan apakah dapat
mendampingi istri dengan baik. Lebih lebih ketika usia sudah beranjak
mendekati 50 tahun, ada ketakutan lain yang mencekam. Ada kekhawatiran
jangan-jangan di saat anak masih kecil, ia sudah tak
sanggup lagi mencari nafkah. Atau ketika masalah nafkah tak merisaukan
(karena tabungan yang melimpah), jangan-jangan ia sudah mati ketika
anak-anak masih perlu banyak dinasehati. Bila tak ada iman di hati,
ketakutan ini akhirnya melahirkan keputus-asaan. Wallahu A'lam bishawab.
Ya... ya... ya..., kadang kita sendirilah penyebabnya, kita mempersulit apa
yang telah Allah mudahkan, sehingga kita menghadapi kesulitan yang tak
terbayangkan. Kita memperumit yang Ia sederhanakan, sehingga kita
terbelit oleh kerumitan yang tak
berujung. Kita menyombongkan atas apa yang tidak ada dalam kekuasaan
kita, sehingga kita terpuruk dalam keluh-kesah yang berkepanjangan.
Maka, kalau kesulitan itu kita sendiri penyebabnya, beristighfarlah.
Semoga Allah berkenan melapangkan jalan kita dan memudahkan urusan kita.
Laa ilaaha illa Anta, subhanaka inni kuntu
minazh-zhalimin.
Berkenaan dengan sikap mempersulit, ada tingkat-tingkatanny a. Seorang
menolak untuk menikah boleh jadi karena matanya disilaukan oleh dunia,
sementara agama ia tak mengerti. Belum sampai kepadanya pemahaman
agama. Boleh jadi seorang menunda-nunda nikah karena yang datang
kepadanya beda harakah, meskipun tak ada yang patut dicela dari agama
dan akhlaknya. Boleh jadi ada di antara kita yang belum bisa meresapi
keutamaan menyegerakan nikah, sehingga ia tak kunjung melakukannya.
Boleh jadi pula
ia sangat memahami benar pentingnya bersegera menikah, sudah ada
kesiapan psikis maupun ilmu, telah datang kesempatan dari Allah,
tetapi... sukunya berbeda, atau
sebab-sebab lain yang sama sepelenya.
Ada Yang Tak Bisa Kita Ingkari
Kadang ada perasaan kepada seseorang. Seperti Mughits -seorang sahabat
Nabi Saw- kita selalu menguntit kemana pun Barirah melangkah. Mata
kita mengawasi,hati kita mencari-cari dan telinga kita merasa indah
setiap kali mendengar namanya. Perasaan itu begitu kuat bersemayan di
dada. Bukan karena kita menenggelamkan diri dalam lautan perasaan,
tetapi seperti kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyah mengutip dari
Al-Madaa'iny, "Andaikan orang yang jatuh cinta boleh memilih, tentu
aku tidak akan memilih jatuh cinta."
Perasaan ini kadang mengganggu kita, sehingga tak sanggup berpikir
jernih lagi. Kadang membuat kita banyak berharap, sehingga mengabaikan
setiap kali ada yang mau serius. Kita sibuk menanti -kadang sampai
membuat badan kita kurus kering- sampai batas waktu yang kita sendiri
tak berani menentukan. Kita merasa yakin bahwa dia jodoh kita, atau
merasa bahwa jodoh kita harus dia, tetapi tak ada langkah-langkah
pasti yang kita lakukan. Akibatnya, diri kita tersiksa oleh angan-angan.
Persoalannya, apakah yang mesti kita perbuat ketika rasa sayang itu
ada? Inilah yang insya-Allah kita perbincangkan lebih mendalam pada
makalah Masih Ada Tempat untuk Cinta. Selebihnya, kita cukupkan dulu
pembicaraan itu sampai di sini.
Tuhan, Jangan Biarkan Aku Sendiri
Di atas semua itu, Allah bukakan pintu-pintu- Nya untuk kita.. Ketuklah
pertolongan- Nya dengan do'a. Di saat engkau merasa tak sanggup
menanggung kesendirian, serulah Tuhanmu dengan penuh kesungguhan,
`Tuhanku, jangan biarkan aku sendirian. Dan Engkau adalah sebaik-baik
Warits..' (QS. Al-Abiya': 89).
Rabbi, laa tadzarni fardan wa Anta khairul waritsin.
Ini sesungguhnya adalah do'a yang dipanjatkan oleh Nabi Zakariya untuk
memohon keturunan kepada Allah Ta'ala. Ia memohon kepada Allah untuk
menghapus kesendiriannya karena tak ada putra yang bisa menyejukkan mata.
Sebagaimana Nabi Zakariya, rasa sepi itu kita adukkan kepada Allah
`Azza wa Jalla semoga Ia hadirkan bagi kita seorang pendamping yang
menenteramkan jiwa dan membahagiakan hati. Kita memohon kepada-Nya
pendamping yang baik dari sisi-Nya. Kita memasrahkan kepada-Nya apa
yang terbaik untuk kita.
Kapan do'a itu kita panjatkan? Kapan saja kita merasa gelisah oleh
rasa sepi yang mencekam. Panjatkan do'a itu di saat kita merasa amat
membutuhkan hadirnya seorang pendamping; saat hati kita dicekam oleh
kesedihan karena tidak adanya teman sejati atau ketika jiwa dipenuhi
kerinduan untuk menimang buah hati yang lucu. Panjatkan pula do'a saat
hati merasa dekat dengan-Nya; saat dalam perjalan ketika Allah jadikan
do'a mustajabah; dan saat-saat mustajabah lainnya